Here is the reason you should read


(pinterest)

Kamu masih inget gak sama judul buku yang pertama kali kamu baca? Atau, masih inget sama judul buku yang bikin kamu suka baca atau bahkan benci baca buku? 

Ibuku dulu sering banget beliin aku buku bacaan dongeng anak. Aku mulai baca buku dari umur 3 tahun, buku pertama yang aku baca adalah series anak dari Majalah Bobo yang memang terkenal pada masa itu. Lalu ada cerita dongeng Indonesia kayak, Timun Mas, Si Kancil dan Buaya, dan karena dulu sering beli susu Dancow, aku juga sering baca buku hadiah dari Dancow yang aku inget banget nama seriesnya: Aku dan Kau. 

Anyway, sebenernya aku pengen bahas tentang kenapa sih aku suka baca buku dan seberapa penting persepsi aku terhadap membaca yang menumbuhkan habit selalu pengen belajar. 

Aku suka baca buku karena menurutku, buku memberikan aku jeda untuk memahami suatu hal baru. Didukung oleh artikel yang aku baca dari lifestyle.kompas.com, Maryanne Wolf, pakar disleksia mengatakan:

"Saat kita membaca, kita lebih banyak berpikir. Membaca memberi kita jeda yang unik untuk memahami dan mendapat pengetahuan baru. Sebaliknya, saat kita berbicara, menonton film atau mendengar musik, kita tidak mengalami jeda yang sama."  

Dan dari tulisan ini, aku pengen menuangkan keresahan sekaligus pengingat kepada diri sendiri tentang pentingnya membaca di kehidupan sehari-hari. Tentunya, tulisan yang aku tulis ini sudah melalui riset dengan baca jurnal dan artikel-artikel yang aku pilih agar bisa sesuai dengan kebutuhan yang menurutku diperlukan. Kamu bisa baca jurnalnya juga yang udah aku taruh di bagian referensi paling akhir tulisan ini. 

Oke, kita mulai ya...

Setelah membaca artikel Kajian hasil PISA Indonesia yang ditulis dari blog Guru Dikdas Kemendikbud, ada beberapa poin penting yang aku temukan di artikel tersebut, dan aku mengambil 4 konteks yang menarik buat aku: 

  1. Indonesia berhasil meningkatkan akses anak usia 15 tahun untuk bisa masuk ke dalam sistem persekolahan (and i really appreciated it), tapi ternyata, kita masih perlu upaya yang lebih besar lagi nih untuk bisa mendidik mereka agar presentase siswa berpresrasi rendah ini bisa ditekan. Karena faktanya, hasil PISA tahun 2018 siswa SMP/MTS di desa itu cenderung mendapatkan nilai yang rendah dalam kopetensi membaca jika dibandingkan dengan siswa-siswa dari kelompok karakteristik yang lain.
  2. Siswa SMP yang ada di desa berturut-turut memiliki kemampuan membaca yang rendah dalam enam putaran PISA terakhir. Kemampuan membaca siswa pedesaan tercatat 24 poin di bawah rata-rata Indonesia.
  3. Tujuh dari sepuluh siswa usia 15 tahun memiliki tingkat literasi rendah dan masih di bawah kopetensi minimal. 
  4. Siswa yang menyempatkan membaca untuk mengisi waktu luang mereka dalam seminggu memiliki capaian skor PISA-nya lebih tinggi 50 poin dibanding yang lain. 
Kata kunci: PISA (Programme for International Student Assessment)

Dari keempat poin diatas, aku jadi inget satu kalimat yang dikatakan oleh Haras tentang pentingnya kemahiran membaca, lengkapnya gini:
"Kemahiran membaca (reading literacy) merupakan conditio sine quanon (prasyarat mutlak) bagi setiap insan yang ingin memperoleh kemajuan."
Kamu tahu gak sih, kalau membaca itu berpengaruhnya gak cuma sampai nilai rapot aja. Nyatanya, rendahnya minat baca adalah salah satu penentu kualitas bangsa Indonesia. Masyarakat yang kurang membaca otomatis akan sulit mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di mana hal ini berpengaruh pada ketertinggalan bangsa Indonesia di masa depan. 

Ketika seseorang membaca, dia akan memiliki kesempatan untuk bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi lebih besar daripada yang tidak membaca sama sekali. Memperluas wawasan serta melatih creative thinking yang mana ini akan sangat berguna untuk memecahkan masalah di kehidupan sehari-hari kita. Membaca mengajarkan kita mengikuti alur dan mempelajari sisi-sisi yang belum pernah kita jamah sebelumnya, mengajak kita berpetualang dan menemukan makna dari suatu cerita.

Namun, karena kurangnya dukungan orang tua dan lingkungan bisa menyebabkan kurangnya motivasi anak untuk gemar membaca. Ketika seseorang tidak tahu atau kurang memahami manfaat membaca, mereka menjadi kurang memiliki motivasi dan keinginan untuk tahu tentang dunia baca. Kebanyakan dari kita lebih suka melihat film atau mendengar cerita karena kurangnya minat membaca juga salah satunya dipengaruhi oleh banyaknya tayangan TV dan permainan yang membuat anak atau orang dewasa menjauhi buku. Lalu, yang terakhir adalah karena kondisi ekonomi, rendahnya kondisi ekonomi seseorang akan lebih sulit untuk mendapatkan buku-buku berkualitas baik. 

Lalu pertanyaannya, apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan budaya baca?

Peningkatan kualitas masyarakat, peran orang tua dan guru, yang didukung oleh pemerintah adalah salah satu upaya penanaman minat membaca. Upaya ini dimaksudkan untuk menanamkan habit anak agar menyediakan waktu untuk membaca bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan usia seseorang.

Aku punya rekomendasi aplikasi baca anak gratis namanya Let's Read yang bisa kamu akses lewat website ataupun Playstore. Dimulai dari buku anak usia 1 tahun sampai dengan usia 10 tahun.  Untuk mengenalkan dunia baca kepada anak, kamu bisa Let's Read bisa jadi pertimbangan kamu!

Aplikasi lain yang juga gratis dan bisa diakses oleh kamu yang gak punya budget beli buku tapi pengen menanamkan habit baca, IPusnas bisa jadi pilihan kamu. Aku sering baca pake aplikasi ini dan nemuin banyak banget koleksi buku yang aku mau tapi masih ragu buat beli. Koleksinya lengkap, kekurangannya cuma satu, kamu harus nunggu antrian dan baca dengan jangka waktu lima hari. Ada beberapa rekomendasi buku dari IPusnas yang bisa kamu coba baca: 
  1. Kalau kamu suka Novel, kamu bisa coba baca: Jakarta Sebelum Pagi (Karya kak Ziggy) dan Hujan (Karya Tere Liye).
  2. Kalau kamu suka buku motivasi, kamu bisa coba baca: Hati tak Bertangga.
  3. Kalau kamu suka buku self-improvement, kamu bisa coba baca: Honjok (Seni Hidup Sendiri), Dear Tomorrow (Karya Maudy Ayunda).
  4. Kalau kamu suka buku politik, kamu bisa baca buku: Laut bercerita, Biografi Tan Malaka.
"Ketika aku membaca, aku ngerasa gak tahu apa-apa. Membaca selalu buat aku makin penasaran dengan dunia dan sisi-sisi misteriusnya. Jadi aku mulai membaca buku yang lain, dan lagi-lagi aku merasa gak familiar dengan dunia yang penulis tulis. Aku semakin penasaran dan mencari buku lain yang bisa meredakan rasa penasaranku. Terus berulang hingga entah kapan."


See you when i see you!!!

Referensi:

Special thanks untuk dua jurnal yang membantu aku dalam penulisan artikel ini. 

Jurnal 1: Budaya Membaca Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat, oleh Heny Friantari Dipublikasikan pada Januari 2018.

Jurnal 2: Permasalahan Budaya Membaca di Indonesia (Studi Pustaka Tentang Problematika & Solusinya), oleh Lilik Tahmidaten, Wawan Krismant Dipublikasikan pada Januari 2020.

Artikel: https://gurudikdas.kemdikbud.go.id/news/mengkaji-kembali-hasil-pisa-sebagai-pendekatan-inovasi-pembelajaran--untuk-peningkatan-kompetensi-li (oleh Hadi Wuryanto, S.Kom., M.A. dan Moch. Abduh, Ph.D.) Dipublikasikan Desember 2022.





Komentar

Postingan Populer