Everyone's damaged in their own way
Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Z.
(Sumber: Pinterest)
"Semua orang mengalami tragedi dalam hidupnya. Nggak semuanya besar menurut orang, tapi semuanya besar bagi yang mengalami. Di mata orang, kematian orang karena usia lanjut itu biasa saja; tapi bagi Nin, kehilangan suami itu nggak; nggak menikah dengan orang yang dia sayangi itu umum, tapi bagi Pak Manner, itu menyakitkan. Everyone's damaged in their own way."
Kutipan dari buku Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Z yang bikin aku seketika bilang kalau "wah, gimana caranya biar buku ini bisa dibaca semua orang!"
Penyajian konflik yang sebenernya berat, tapi berkat penulisan kak Ziggy yang ringan bikin kita terlarut hingga akhirnya gak sadar kalau udah masuk dua halaman terakhir buku. Dari mulai permasalahan Emina (sudut pandang pertama) yang udah ditinggal orang tuanya, Abel (salah satu tokoh utama) yang punya fobia suara dan sentuhan, Suki (salah satu tokoh utama) anak umur 12 tahun yang sudah harus memilih masa depannya akibat perceraian kedua orangtuanya, lalu pak Maneer (salah satu tokoh) yang ingin minta tolong tapi bingung harus kesiapa adalah beberapa masalah yang menurutku sih lumayan berat.
Dan dari semua percakapan antara Emina dan beberapa karakter yang ada didalam buku Jakarta Sebelum pagi ini, percakapan yang dikutip diatas yaitu percakapan antara Emina dan teman sekantornya---Nissa adalah percakapan yang paling ngena banget di aku.
Everyone's damaged in their own way
Karena memang iya.
Semua orang damaged karena beberapa hal dalam hidupnya. Semua orang ngerasain kesulitan, kehilangan, kehancuran yang membuat mereka menjadi sekuat sekarang, selemah sekarang, semenyenangkan sekarang, semenyedihkan sekarang. Semua yang ada dalam diri mereka itu selalu ada cerita yang entah mereka sadari atau engga, semua cerita mereka itu nyatanya jadi salah satu aspek yang membentuk mereka sampai jadi seperti itu.
Bahwa apa yang kita lihat hari ini dari seseorang tuh cuma setetes dari satu bak besar air mata mereka yang belum pernah kita lihat. Mugkin nangis-nangis karena nilai-nya turun keliatan 'lebay' buat sebagian orang, tapi nggak buat mereka yang susah untuk bisa sekolah dan nerima beasiswa. Mungkin bisa liat langit sore itu biasa buat sebagian orang, tapi nggak untuk mereka yang selalu pulang malam biar dapet sedikit lebih banyak uang akhir bulan yang bisa mereka kasih ke orang tua mereka di rumah. Atau mungkin ditanya, "mau makan apa hari ini?" sama ibu adalah pertanyaan biasa, tapi buat mereka yang nggak lagi bisa denger itu adalah hal paling menyenangkan yang selalu mereka harap denger lagi.
Everyone's damaged in their own way dan memang benar.
Belajar untuk mengerti tiap sisi manusia yang nggak pernah kamu liat memang sulit, tapi nggak salah dicoba. Belajar untuk mengerti kalau kesakitan mereka itu nyata, kebahagiaan mereka itu nyata dan kalau kita nggak merasakannya bukan berarti perasaan sakit dan bahagian itu nggak nyata. Jadi, perlu banget untuk mengerti satu sama lain sebagai manusia seenggaknya biar dunia ini lebih hangat.
Nggak tau kenapa ya, cuma aku sih emang suka meromantisasi segala hal yang ada disekitar aku aja gitu, jadi ngerasa relate sama tulisan tadi, xixi.
Pairing yang sempurna antara Abel dan Emina. Ini mereka lucu banget padahal scene romantisnya bisa dibilang sedikit. Padahal cuma gara-gara their fingers intertwined aja aku bisa loncat-loncat gak karuan. Suki dan pemikirannya yang bikin insecure, Pak Manner dan semua surat romantisnya. Ah, cuma bisa bilang makasih sama Kak Ziggy yang udah nyiptain tulisan seajaib ini!








Komentar
Posting Komentar